Permainan Khas JAMBI

22.55 JAMBIKU 0 Comments

                      Permainan Tejek-tejekan






              Permainan tradisional tejek-tejekan adalah permainan anak tradisional yang populer di Indonesia, khususnya dimasyarakat pedesaan. Permainan ini dapat ditemukan diberbagai wilayah di Indonesia baik di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Disetiap wilayahnya dikenal dengan nama yang berbeda, seperti Pacih di Aceh, Setatak di Riau, Tejek-tejekan di Jambi, Cak Ingking Gerpak di Sumatera Selatan, Odik di Jawa Timur, Siki Doka di Nusa Tenggara Timur, dan paling populer sebagai Englek.
Permainan ini bernama tejek-tejekan karena cara bermainnya dengan mengangkat kaki sebelah ke atas sambil melompta-lompat ke tempat yang sudah ditentukan. Permainan ini terdapat di seluruh daerah Jambi, khususnya di wilayah Jambi permainan ini disebut Cingkling.
Permainan ini biasanya dilakukan oleh anak-anak perempuan berumur 7 – 12 tahun dengan jumlah pemain 2 orang. Pelaksanaan permainan ini di halaman rumah yang agak luas dengan membuat petak-petak yang digambarkan di atas tanah, biasanya berjumlah 10 petak. Alat yang digunakan adalah kuju dari pecahan genteng. Permainan ini mengandung unsur ketekunan, kesabarab, serta perasaan halus yang dimiliki anak perempuan.

                  Cara bermain dari permainan ini yaitu pertama-tama semua pecahan genteng milik peserta diletakkan di dalam petak pertama. Pemenang pertama dalam sut dialah yang bermain lebih dahulu dengan cara melempar kuju ke petak tingkatan kedua. Jika kuju mengenai sasaran maka pemain boleh melakukan permainan dengan jalan bertejek ke petak kedua sampai petak terakhir. Pada waktu kembali, kuju diambil di petak ketiga selanjutnya bertejek lagi sampai petak kesatu, tetapi petak kesatu kuju lawan tidak boleh terinjak. Andaikata ini berhasil, maka kuju dilempar lagi ke petak yang ketiga, kemudian bertejek lagi seperti semula sampai ke petak yang terakhir dan jika berhasil maka akan diberi penghargaan bintang yang digambarkan di dalam petak tersebut sesuai keinginan pemain di petak mana akan dilukiskan. Pemilik bintang selanjutnya diberi hak untuk menginjak bintang dan pemain lawan tidak dibolehkan. Permainan mati akan digantikan oleh pemain lain, apabila :
  • Pada waktu melempar pecahan genteng kesuatu petak jatuh di luar petak yang sudah ditentukan.
  • Pada waktu bertejek terpijak garis permainan.
  • Pada waktu bertejek terpijak bintang kepunyaan pemain lain.
                      Pemenang ditentukan oleh pemain yang paling banyak mendapat bintang. Sebagai imbalan maka pemenang akan didukung oleh pemain-pemain yang kalah secara bergiliran.
Manfaat dari permainan ini :
  • Melatih anak untuk berhitung dan menentukan langkah-langkah yang harus dilewatinya
  • Mengembangkan kecerdasan logika anak


                        Permainan Gasing Jambi


                Gasing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkesetimbangan pada suatu titik. Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali.

Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak laki-laki berusia 7 – 17 tahun dengan jumlah pemain minimal dua orang. Tempat yang digunakan halaman rumah yang luas dan datar. Gasing terbuat dari kayu yang dibentuk sedemikian rupa, menyerupai jantung pisang bagian bawah diberi paku. Ukurannya berkisar 10 – 20 cm dengan diameter 4 – 6 cm. Untuk penggunaannya dilengkapi dengan alit (tali) berukuran 60 – 100 meter. Permainan ini mengandung sifat kompetitif karena sifatnya mencari kemenangan mengadu ketangkasan dan keterampilan memutar gasing.




                    Sebelum permainan dimulai, maka dilakukan undian untuk menentukan kelasi, orang kedua, orang ketiga dan seterusnya dan seorang raja. Kelasi adalah seorang yang kalah dalam undian dan selalu memasang terlebih dahulu untuk ditingkah oleh seorang yang berada ditingkat atasnya. Raja adalah seorang yang menang dalam undian, ia selalu terletak ditingkat atasnya. Sedangkan tingkah adalah melempar gasing yang di bawah. Undian dilakukan dengan cara bersama-sama memutar gasing. Gasing yang cepat mati berarti menjadi kelasi, dan gasing yang terkahir mati menjadi raja.
Permainan dimulai dengan kelasi memutar gasing untuk ditingkah oleh gasing nomor dua. Jika kelasi tidak mati dan sipeningkah mati, maka sipeningkah turun tingkatannya menjadi kelasi, tetapi kalau keduanya tidak mati, maka dinantikan gasing siapa yang lebih lama hidup atau berputar. Pada saat gasing berputar, gasing nomor tiga langsung meningkah. Apabila gasing yang ditingkah mati, maka ia masih dalam kedudukannya nomor tiga, tetapi jika ia mati lebih dahulu dari yang ditingkah maka ia turun tingkatannya menjadi gasing nomor dua dan gasing nomor dua naik tingkatannya menjadi nomor tiga begitu seterusnya sampai permainan ketingkat raja.
 Permainan berhenti apabila :
  • Atas permintaan kelasi kepada raja, dengan alasan tidak tahan terus menerus menjadi kelasi.
  • Apabila gasing salah seorang pecah kena tingkah dan tidak mempunyai gasing lagi sebagai gantinya.                                                                                                      

                     Permainan Adang-Adangan



                       Permainan adang-adangan dilakukan oleh anak laki-laki atau perempuan berusia 10 - 16 tahun, Jumlah pemain minimal 6 orang. Tidak ada alat khusus dalam permainan ini, hanya yang diperlukan tempat yang luas dan terbuka. Tempat ini diberi petak-petak sejumlah delapan buah. Tiap petak berukuran lebih kurang tiga meter bujur sangkar. Permainan ini biasanya dilakukan pada saat turun ke sawah atau ke ladang.
Sebelum permainan dimulai, maka diadakan sut oleh ketua kelompok masing- masing. Kelompok yang menang bertindak sebagai penerobos, sedangkan yang kalah bertindak sebagai penjaga benteng.
Cara bermain, pertama-tama masing-masing anggota penghadang menempati garis melintang pada petak-petak tersebut, ketua kelompok menempati garis paling depan. Ketua kelompok boleh berjalan atau berlari sampai ke belakang melewati garis vertikal yang ada di tengah, sedangkan penghadang lainnya hanya dibenarkan pada garis melintang yang sudah ditentukan.
Penerobos benteng berusaha memasuki benteng dengan segala taklik dan kelihaian untuk memasuki petak-petak tersebut, Jika penerobos berhasil melewati petak benteng tanpa melanggar aturan mendapatkan nilai satu. Pemain melanggar aturan apabila:
  1. Menginjak garis permainan
  2. Berada di luar petak selelah yang bersangkutan memasuki benteng.
  3. Bersinggungan dengan salah satu penghadang.
Pemenang adalah kelompok yang banyak mengumpulkan nilai. Sebagai hukuman bagi kelompok yang kalah setiap anggota kelompok diharuskan menggendong setiap anggota yang menang.



0 komentar: